Kabarnews.co, TENGGARONG – Langit Tenggarong beranjak dari pagi ke siang ketika naga raksasa itu ditarik perlahan menuju arus Mahakam. Ratusan pasang mata menatap khidmat, menyaksikan prosesi Ngulur Naga yang menandai penutupan Festival Erau Adat Kutai 2025. Tak lama, tradisi Belimbur saling percik air suci dari Kutai Lama mengubah suasana khidmat menjadi riang, merangkul semua yang hadir dalam kebersamaan.
Ribuan orang tumpah ke jalanan Kota Raja, dari warga setempat hingga wisatawan mancanegara. Di halaman Museum Mulawarman, prosesi adat yang berusia ratusan tahun itu kembali membuktikan daya magisnya.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, menyebut Ngulur Naga dan Belimbur bukan sekadar ritual penutup. “Budaya adalah denyut nadi masyarakat Kutai dan Kaltim. Erau harus terus dijaga, semakin berkualitas, dan memberi manfaat nyata,” katanya.
Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, menambahkan makna filosofis dari air Belimbur: kesakralan, kesucian, kesyukuran, dan kesabaran. “Ketika adab dan adat dijunjung tinggi, disempurnakan dengan ilmu, insya Allah Kukar akan mencapai puncak kemakmurannya,” ujarnya.
Di antara hadirin tampak pula Sultan Kutai, Aji Muhammad Arifin, serta Wakil Bupati Rendi Solihin. Kehadiran mereka menegaskan bahwa Erau bukan milik satu pihak, melainkan napas kolektif masyarakat Kutai.
Festival yang tahun ini bertepatan dengan ulang tahun ke-243 Kota Tenggarong itu sekali lagi menegaskan posisinya: bukan sekadar pesta rakyat, melainkan upacara peradaban. Dan ketika naga terakhir lenyap di balik Mahakam, orang Kutai tahu, Erau tak pernah benar-benar berakhir.
Penulis : Azizah/Kabarnews.co






