Rekrutmen RSUD Aji Muhammad Idris Disorot, Isu Transparansi dan Tenaga Lokal Mengemuka

No comments
Foto: Aksi unjuk rasa dari Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Pesisir Daerah, di RSUD AMI Muara Badak. (Foto: Istimewa).

Kabarnews.co, TENGGARONG – Proses rekrutmen tenaga kesehatan untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aji Muhammad Idris di Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus menuai sorotan publik. Isu transparansi seleksi serta minimnya keterlibatan tenaga lokal menjadi perhatian utama dalam polemik yang berkembang di tengah masyarakat.

Sorotan tersebut memicu aksi unjuk rasa yang digelar Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Pesisir Daerah (AMARAH) di RSUD Aji Muhammad Idris, Rabu (15/4/2026). Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap proses seleksi yang dinilai tidak terbuka dan merugikan sejumlah pelamar.

Koordinator Lapangan aksi, Erdin Syam, menyampaikan bahwa tuntutan utama massa adalah keterbukaan hasil seleksi. Ia menilai, informasi mengenai peserta yang lulus maupun yang mendaftar seharusnya dapat diakses publik sebagaimana pada proses seleksi non-skill pada umumnya.

Selain itu, AMARAH juga menyoroti adanya dugaan perubahan status kelulusan dalam sistem pendaftaran. Sejumlah pelamar disebut sempat dinyatakan lolos, namun dalam hitungan jam status tersebut berubah menjadi tidak lolos, sehingga memunculkan kecurigaan di kalangan peserta.

Tidak hanya itu, minimnya keterlibatan tenaga lokal juga menjadi sorotan. Berdasarkan data yang beredar, jumlah pelamar asal Muara Badak yang berhasil lolos hingga tahap wawancara disebut belum mencapai separuh dari total peserta. Padahal, untuk sejumlah posisi seperti tenaga administrasi, perawat, hingga laboratorium, dinilai masih memungkinkan diisi oleh tenaga lokal.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama RSUD Aji Muhammad Idris Muara Badak, Fauzan Achmad, membantah adanya sistem yang secara otomatis menetapkan kelulusan peserta. Ia menjelaskan bahwa informasi yang beredar hanyalah template jadwal lanjutan setelah peserta mengikuti tahapan tertentu, bukan penetapan hasil akhir.

Fauzan juga menegaskan bahwa pihaknya tetap memprioritaskan tenaga lokal, namun harus disesuaikan dengan kualifikasi dan kebutuhan formasi yang tersedia. Ia menyebut proses seleksi dilakukan secara bertahap dan kompetitif, mengingat jumlah pelamar yang mencapai lebih dari seribu orang.

Di sisi lain, polemik yang terjadi turut berdampak pada tertundanya tahapan lanjutan rekrutmen, termasuk pengumuman menuju tes kesehatan. Dinas Kesehatan Kukar mengingatkan, jika situasi ini terus berlanjut tanpa penyelesaian, maka operasional RSUD Aji Muhammad Idris berpotensi mengalami keterlambatan.

Baca Juga

Bagikan:

Tinggalkan komentar