Kabarnews.co, TENGGARONG – Kapasitas produksi air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk wilayah Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mengalami penurunan signifikan akibat rendahnya debit air baku. Kondisi curah hujan yang masih sporadis di wilayah tersebut membuat waduk utama yang selama ini menjadi sumber air belum mampu menampung debit secara optimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kukar, Sunggono, mengungkapkan bahwa penurunan kapasitas produksi air bersih di wilayah tersebut terbilang cukup drastis. Ia menyebutkan, kapasitas produksi yang pada kondisi normal biasanya mampu mencapai 80 liter per detik, saat ini terpaksa anjlok menjadi hanya sekitar 40 liter per detik.
Fakta mengenai merosotnya produksi air tersebut diperoleh Sunggono secara langsung dari laporan Direktur Utama PDAM. Pertemuan keduanya digelar guna membahas kondisi terkini sekaligus mencari sejumlah alternatif solusi jangka pendek untuk tetap menjaga ketersediaan layanan air bersih bagi warga Kecamatan Samboja dan daerah di sekitarnya.
“Tadi pagi saya justru dapat tamu dari Direktur Utama PDAM yang menyatakan bahwa debit air kita ini masih sangat rendah. Karena hujannya juga masih sporadis, debitnya masih belum normal,” ungkap Sunggono saat memberikan keterangan pada Senin (2/11/2026) lalu.
Merespons krisis air baku tersebut, Pemerintah Kabupaten Kukar kini tengah mengkaji alternatif pemanfaatan sebuah waduk milik Balai Wilayah Sungai (BWS) yang berlokasi di kawasan Samboja. Waduk itu sebenarnya merupakan fasilitas yang sudah lama tersedia, tetapi belum pernah dimanfaatkan secara langsung sebagai sumber air baku untuk sistem pengolahan PDAM.
Sunggono menjelaskan bahwa salah satu alasan utama mengapa waduk tersebut belum dimanfaatkan hingga saat ini adalah letaknya yang cukup jauh. “Ada waduk yang dibuat oleh BWS, tapi waduk lama sebenarnya. Dan memang jaraknya agak jauh, kenapa sampai sekarang baru dijadikan alternatif untuk dimanfaatkan. Jaraknya itu dari reservoir terdekat milik PDAM itu hampir sekitar 5-7 kilo,” katanya memaparkan.
Meski menghadapi kendala jarak, potensi pemanfaatan waduk BWS tersebut kini mulai ditindaklanjuti secara serius oleh instansi terkait. “Beliau hari ini saya perintahkan untuk langsung datang ke lapangan, menemui camat. Kemudian menemui beberapa pihak, termasuk dari BWS yang memiliki waduk di sana, untuk memastikan apakah memang debit airnya itu bisa kita olah menjadi air baku untuk PDAM, untuk warga Samboja dan sekitarnya,” tegas Sunggono.
Langkah cepat tersebut diharapkan mampu menjadi jalan keluar yang konkret bagi penanganan pasokan air bersih di Kecamatan Samboja. Pemkab Kukar menaruh harapan besar agar alternatif ini dapat diandalkan sebagai solusi strategis untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, terutama selama debit air di sumber utama masih tergolong rendah akibat intensitas hujan yang belum merata.






