Makna Sejarah dan Budaya Lokal dalam Logo dan Maskot MTQH XLVI Kaltim 2026

No comments
Foto: Maskot MTQH XLVI Kaltim, Kadeka dan Kadeki.

Kabarnews.co, TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) secara resmi mengangkat kekayaan kebudayaan dan sejarah lokal ke dalam identitas visual Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadis (MTQH) XLVI tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) 2026. Melalui desain logo dan maskot tersebut, Kukar tidak sekadar memperkenalkan diri sebagai tuan rumah, melainkan memadukan nilai-nilai sejarah syiar Islam, tradisi khas daerah, serta dukungan masyarakat terhadap ajaran Al-Qur’an.

Sekretaris Daerah (Sekda) sekaligus Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kukar, Sunggono, menegaskan bahwa seluruh unsur visual tersebut sarat akan identitas Kutai Kartanegara. Ikon utama yang disorot adalah keberadaan Masjid Jami’ Tenggarong yang menjadi latar pada maskot sekaligus menyatu di dalam rancangan logo MTQH.

Masjid yang awalnya merupakan sebuah musala rintisan penyiar agama Islam, Pangeran Noto Igomo, sebelum akhirnya dibangun pada tahun 1874 tersebut menjadi simbol tonggak penyebaran Islam di Kukar. Keberadaannya di dalam logo menjadi pengingat mengenai peran vital masjid sebagai pusat pembinaan umat dan lahirnya generasi Qur’ani dari masa lalu hingga kini.

Di samping ikon bangunan bersejarah, maskot MTQH XLVI Kaltim 2026 turut menampilkan sepasang anak laki-laki dan perempuan yang diberi nama Kadeka dan Kadeki. Keduanya digambarkan mengenakan baju miskat, yakni pakaian adat khas Kutai yang juga secara rutin digunakan oleh aparatur pemerintah di lingkungan Pemkab Kukar setiap hari Kamis sesuai dengan ketentuan Peraturan Bupati.

Detail pakaian dan aksesoris pada maskot juga menyimpan pesan kuat tentang semangat kebersamaan. Sosok Kadeki dihiasi dengan kalung yang merupakan aksesoris khas perempuan Kutai, sementara pakaian Kadeka memuat tulisan KD’Q atau Keroan Dengsanak Qur’ani, yang mewakili dukungan luas masyarakat terhadap implementasi Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2021 tentang penyelenggaraan Gerakan Etam Mengaji (GEMA).

Pemilihan warna hijau dan kuning pada maskot tersebut juga disesuaikan secara khusus dengan nilai kearifan lokal setempat. Sunggono menjelaskan pada pemaparannya, Selasa (3/11/2026) lalu, bahwa paduan hijau dan kuning merupakan representasi warna sakral dalam tradisi kebudayaan Kutai yang melambangkan kedamaian sekaligus kemakmuran bagi kehidupan masyarakat.

Lebih lanjut, rancangan logo MTQH ini memadukan bentuk angka 46, siluet bulan bersinar, wujud masjid, serta kitab suci Al-Qur’an, yang secara keseluruhan membentuk visual menyerupai obor atau daun. Susunan elemen tersebut tidak sekadar menandai edisi pelaksanaan MTQH ke-46, melainkan menyimbolkan cahaya keberkahan Al-Qur’an, semangat persatuan, serta visi pemerintah dalam mewujudkan masyarakat religius dan berdaya saing.

Pelaksanaan ajang kompetisi keagamaan ini mengusung tema “Dengan Berkah MTQH di Tanah Bertuah Mari Kita Wujudkan Generasi Emas Kalimantan Timur 2045”. Penggunaan frasa ‘tanah bertuah’ tersebut diadaptasi secara langsung dari lirik syair Mars Kutai Kartanegara ciptaan Yang Mulia Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, dengan harapan penyelenggaraan MTQH dapat menjadi fondasi dalam membangun sumber daya manusia berakhlak mulia untuk menyongsong generasi emas 2045.

Penulis : Jifran

Baca Juga

Bagikan:

Tinggalkan komentar