Di tengah riuh panggung yang disorot lampu, Dwi Musthofa berdiri teguh di belakang kendang, alat yang mengantarkannya dari desa kecil di Samboja menuju panggung-panggung nasional dan internasional.
Tapi di balik tampilannya yang penuh percaya diri, ada perjalanan panjang dan dalam yang dilalui seorang anak muda dengan hasrat luar biasa pada musik tradisi.
Lahir pada 10 Juni 1999, Dwi mengenal musik bukan dari sekolah musik elit, tetapi dari rumah dan sekitarnya. Ia memulai dari benda-benda sederhana seperti ember dan kaleng, hingga akhirnya mendapatkan kendang pertamanya dari orang tua.
“Waktu itu orang tua saya membelikan kendang ketipung, dan sejak saat itu saya terus bermain. Tidak pernah diajari secara formal. Saya belajar hanya dari mendengarkan dan menonton,” kisahnya.
Langkah awal itu membawanya bergabung dengan kelompok religi Habsyi Al-Madad di Samboja. Tapi perjalanannya tidak berhenti di situ. Hasratnya untuk terus berkembang membawanya ke bangku kuliah, menekuni Etnomusikologi di Universitas Mulawarman. Di sanalah ia menemukan keseimbangan antara tradisi dan teori.
“Saya belajar bagaimana memadukan musik tradisi dengan musik modern secara sadar, tidak sekadar menabrakkan dua genre. Ada tanggung jawab ketika kita menginovasi—memahami pakem, meresapi akar, dan tidak membuang esensi dari tradisi,” jelasnya.
Perannya sebagai penabuh kendang kian diperhitungkan. Ia bukan hanya pengiring, melainkan juga kolaborator yang aktif dalam proses aransemen musik. Dwi menjadi bagian dari grup musik etnik seperti Nawasena dan Evolve, serta tampil dalam berbagai festival budaya seperti Sahur Mayur, Visit Kaltim Fest, World Music Fest TMII, hingga mewakili Kalimantan Timur ke Chulalongkorn University, Thailand.
Nama Dwi pun tercatat dalam sejumlah kolaborasi penting, termasuk bersama Dwiki Dharmawan dan Ita Purnamasari, serta penyanyi populer seperti Divarina Indra dan Duo Virgin. Ia juga menjadi session player untuk berbagai genre, mulai dari campursari, jaranan, hingga musik pernikahan modern.
Namun, prestasi tidak membuatnya lupa akar. Dwi juga mengajar seni di sekolah dan membuka ruang belajar informal bagi anak-anak yang ingin mengenal musik tradisi. “Itu PR saya. Memberikan akses agar mereka bisa menyalurkan potensi mereka,” tegasnya.
Bagi Dwi, kendang bukan sekadar alat musik. “Kendang itu pengatur irama, pengontrol tempo. Dan kendang itu hidup. Main kendang tidak cukup dengan teknik, tapi dengan rasa,” katanya dengan penuh keyakinan.
Menyikapi teknologi, ia justru melihat peluang, bukan ancaman. “Teknologi bukan musuh. Tinggal bagaimana kita sebagai pemain bisa memanfaatkannya, tanpa kehilangan jati diri alat musik itu sendiri,” tambahnya.
Impian terbesarnya adalah memberi inspirasi agar generasi muda mencintai dan meneruskan alat musik tradisional. “Impian saya adalah memberikan hal positif dari permainan kendang jaipong, dan bisa menjadi contoh untuk generasi selanjutnya,” ujarnya penuh harap.
Dan untuk mengakhiri perbincangan, Dwi meninggalkan refleksi yang menyentuh, “Jangan sibuk menjadi dokter buat orang lain, jika faktanya diri sendiri juga pasien.” (*)
Sumber : kaltim.tribunnews.com
Penulis : Rachaddian






