Kabarnews.co, Kutai Kartanegara – Festival Nutuk Beham 2025 kembali digelar dengan meriah pada 9–11 Mei 2025, menghadirkan perpaduan indah antara pelestarian budaya leluhur dan penguatan ekonomi masyarakat desa. Acara tahunan yang digelar di Desa Kedang Ipil ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi lokal bisa bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi baru tanpa kehilangan nilai sakralnya.
Ritual Nutuk Beham, yang berarti menumbuk padi ketan, sejak lama menjadi simbol kesyukuran masyarakat Kutai Adat Lawas. Dulu hanya dilakukan dalam konteks adat dan spiritual, kini tradisi tersebut dikemas menjadi festival budaya yang mampu menarik perhatian masyarakat luas, termasuk wisatawan dari luar daerah. Walau tampil lebih modern, esensi ritual tetap terjaga, mencerminkan kearifan lokal yang terus hidup di tengah perubahan zaman.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Kutai Kartanegara (Dispar Kukar) Arianto mengatakan, keberhasilan festival ini menunjukkan bahwa budaya dan ekonomi bisa tumbuh berdampingan.
“Festival ini menggerakkan banyak sektor. UMKM, kuliner lokal, penginapan warga, hingga transportasi ikut terdongkrak. Ini bukan hanya soal budaya, tapi momentum nyata pemberdayaan ekonomi desa,” ujarnya, Senin (12/5).
Festival Nutuk Beham juga membuka peluang besar bagi pelaku usaha lokal untuk unjuk karya. Beragam produk seperti kerajinan rotan, anjat, makanan tradisional, dan olahan gula merah dipamerkan di area festival. Kegiatan ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengenalkan potensi lokal sekaligus meningkatkan pendapatan.
Arianto menambahkan, Desa Kedang Ipil sebagai tuan rumah berhasil mengemas tradisi ini menjadi event yang inspiratif bagi desa-desa lain di Kukar. Dispar Kukar pun siap berkolaborasi dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) agar potensi serupa di wilayah lain dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
“Pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi harus berjalan seiring. Festival Nutuk Beham membuktikan bahwa dua hal ini bisa tumbuh bersama,” jelasnya.
Menariknya, festival ini juga menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda. Mereka terlibat dalam pertunjukan seni, lomba tradisional, hingga penyambutan tamu. Partisipasi aktif anak muda menjadi bukti bahwa budaya bukan hanya warisan, tetapi juga sarana belajar dan berkreasi lintas generasi.
“Festival ini lebih dari sekadar perayaan. Nutuk Beham adalah ruang belajar, ruang berkarya, dan ruang tumbuh bersama sebagai masyarakat yang berbudaya,” tutup Arianto.
Dengan semangat kebersamaan dan kearifan lokal, Festival Nutuk Beham 2025 tak hanya menghidupkan budaya, tetapi juga menegaskan peran desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis tradisi. (Adv)






