Mendoan Wati, Gorengan Legendaris yang Selalu Diburu di Pasar Ramadan Tenggarong

No comments

Kabarnews.co, TENGGARONG – Memasuki hari ke-11 Ramadan, aroma tempe goreng hangat tercium dari deretan lapak di Tangga Arung Square, Tenggarong. Di antara berbagai takjil yang dijajakan di Pasar Ramadan, satu nama yang paling sering disebut pembeli adalah “Mendoan Wati”, gorengan berukuran jumbo yang kerap membuat warga rela mengantre untuk menu berbuka puasa, Senin (1/3/2026).

Di balik lapak sederhana tersebut berdiri Rahmawati (56), pedagang yang hampir tiga dekade setia menjual mendoan setiap Ramadan. Usaha yang dijalaninya bukan sekadar jualan musiman, melainkan perjalanan panjang yang dimulai sejak tahun 1997.

Rahmawati mengaku pertama kali belajar membuat mendoan dari keluarga suaminya yang berasal dari Banyumas, daerah yang dikenal sebagai asal kuliner mendoan. Sejak saat itu, setiap Ramadan ia selalu berjualan gorengan khas tersebut di Tenggarong.

“Mulai jualan itu tahun ’97. Saya diajari keluarga suami yang orang Banyumas. Dari situlah awalnya, lalu setiap puasa kami jual mendoan,” tuturnya sambil membolak-balik tempe di atas wajan panas.

Pada awalnya, Rahmawati berjualan di Rumah Makan Banjar Kutai yang berada di Jalan Jenderal Sudirman, Tenggarong. Saat itu rumah makan tersebut tutup selama Ramadan, sehingga ia memanfaatkan kesempatan untuk membuka lapak mendoan. Seiring waktu, lokasi jualannya berpindah ke Pasar Ramadan hingga akhirnya menetap di kawasan Tangga Arung Square.

Ciri khas mendoan yang dijual Rahmawati terletak pada ukuran tempenya yang besar, sekitar 12 x 8 sentimeter. Tempe tersebut merupakan tempe khusus berukuran besar yang dibuat satu papan utuh tanpa dipotong kecil-kecil, sehingga menghasilkan mendoan yang tebal dan berbeda dari gorengan biasa.

Bahan baku tempe itu didatangkan dari kawasan Loa Pari yang diproduksi oleh keluarga angkatnya yang berprofesi sebagai pengusaha tempe. Dengan bahan tersebut, ia mampu membawa sekitar 500 potong tempe setiap hari ke bazar Ramadan, bahkan sempat mencapai 750 potong pada hari pembukaan.

Meski harga satu potong mendoan kini mencapai Rp15.000 dan kerap dianggap mahal oleh sebagian pembeli, Rahmawati menilai harga tersebut sebanding dengan biaya bahan baku yang terus meningkat. Dalam sehari, omzet penjualan mendoan saja bisa mencapai sekitar Rp2,5 juta. Bagi warga Tenggarong, Mendoan Wati bukan sekadar gorengan, melainkan sajian khas Ramadan yang selalu dirindukan—atau yang sering disebut pelanggan sebagai “mendoan kangenan”.

Baca Juga

Bagikan:

Tinggalkan komentar