Minim Partisipasi Kecamatan Warnai Penilaian TTG Kukar 2025

No comments

Kabarnews.co, TENGGARONG – Pelaksanaan Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tahun 2025 resmi dimulai, namun tidak diikuti seluruh kecamatan. Dari total 20 kecamatan, hanya 8 yang dinyatakan siap mengikuti penilaian. Kondisi ini menjadi sorotan tersendiri karena menunjukkan masih adanya persoalan kesiapan administrasi dan teknis dalam pengembangan inovasi desa.

Penilaian hari pertama pada Selasa (14/10) diawali dengan pengumpulan berkas dan pemutaran video profil peserta. Tahapan ini menjadi kunci karena banyak kecamatan yang gagal ikut lomba dari awal akibat tidak lengkapnya dokumen pendukung serta minimnya penjelasan teknis pada perangkat inovasi. PPTK TTG DPMD Kukar, H. Mohammad Adriannur, menjelaskan bahwa verifikasi administratif memang harus diperketat untuk menjaga kualitas lomba.

“Hari ini kita kumpulkan berkas dan tonton video profil peserta sebagai bahan cek awal bagi juri,” jelasnya. Banyak desa yang sebenarnya memiliki potensi inovasi, namun belum siap mengikuti prosedur formal yang dibutuhkan lomba.

Pada hari kedua, Rabu (15/10), penjurian memasuki tahap inti dengan kategori Posyantek Berprestasi, TTG Unggulan, dan TTG Inovasi. Peserta yang lolos administrasi memaparkan inovasi mereka, tetapi rendahnya jumlah peserta membuat kompetisi terasa kurang maksimal. Sejumlah pihak menilai bahwa perlu ada pembinaan lebih serius agar inovasi desa tidak stagnan dan mampu bersaing di tingkat provinsi.

Kamis (16/10) menjadi hari yang lebih santai melalui penampilan olahan kuliner khas daerah. Meski memberikan warna budaya, sesi ini tetap tidak menutup catatan bahwa partisipasi kecamatan perlu ditingkatkan. Lomba TTG seharusnya menjadi ruang besar bagi desa menunjukkan kemandirian teknologi, bukan sekadar acara rutin tahunan.

Penentuan pemenang akan diumumkan pada Jumat (17/10). Juara tiap kategori nantinya diproyeksikan mewakili Kukar di gelaran TTG Provinsi Kalimantan Timur tahun 2026. Namun, dengan hanya 8 kecamatan yang ikut, representasi Kukar dinilai kurang menggambarkan potensi keseluruhan wilayah.

Adriannur mengakui kondisi partisipasi ini dan menyebut kesiapan menjadi faktor penentu. “Kesiapan inovasi dan kelengkapan berkas itu mutlak. Tahun ini baru delapan kecamatan yang siap tampil,” ujarnya. Hal ini menunjukkan masih perlunya peningkatan pembinaan langsung dari pemerintah kabupaten ke desa-desa.

Jajaran tim juri yang berasal dari BRIDA, Disdikbud, Disperindag, KTNA, Unikarta, hingga Yayasan Kutai tetap berupaya menjaga objektivitas dalam menilai kualitas inovasi peserta. Namun, rendahnya jumlah peserta kembali menegaskan tantangan besar dalam mendorong desa agar lebih percaya diri dan siap mengikuti kompetisi teknologi.

Melihat kondisi tersebut, DPMD Kukar mengharapkan peningkatan partisipasi pada tahun mendatang. “Mudah-mudahan tahun depan lebih banyak peserta dan inovasinya makin beragam,” kata Adriannur. Evaluasi mendalam mengenai pendampingan desa menjadi agenda penting agar TTG tidak hanya menjadi ajang formalitas, melainkan pendorong nyata kebangkitan inovasi desa. (Adv)

Baca Juga

Bagikan:

Tinggalkan komentar