TENGGARONG – Pengumuman pemenang Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) Kutai Kartanegara tahun 2025 menjadi angin segar bagi para pelaku inovasi di tingkat desa. Para peserta yang selama beberapa bulan merancang dan menguji teknologi sederhana akhirnya mendapatkan hasil dari kerja keras mereka. Bagi para inovator, ajang ini bukan sekadar perlombaan, melainkan wadah untuk memperkuat solusi nyata yang dibutuhkan warga.
Salah satu peserta asal Kecamatan Sebulu mengungkapkan rasa bangganya karena inovasinya mampu masuk sebagai nominator hingga akhirnya meraih peringkat juara. Ia menyebut proses pembinaan dari posyantek kecamatan turut membantu dalam penyempurnaan karyanya, terutama pada aspek manfaat dan efisiensi. “Kami tidak bekerja sendiri. Bimbingan posyantek membuat karya kami lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat desa,” ujarnya.
Para inovator juga menilai bahwa adanya empat kategori penilaian memungkinkan setiap desa mengembangkan teknologi sesuai potensi masing-masing. Dari pengolahan hasil pertanian hingga teknologi ramah lingkungan, setiap karya dianggap mewakili kondisi dan kreativitas lokal yang berbeda-beda. Hal inilah yang membuat kompetisi TTG tahun ini terasa lebih variatif dan kompetitif.
Meskipun telah diumumkan pemenang, para peserta menyampaikan harapan agar pendampingan tidak hanya dilakukan menjelang lomba. Mereka menilai bahwa inovasi desa harus terus dikembangkan sepanjang tahun karena kebutuhan masyarakat juga berkembang. “Kalau pembinaan terus menerus, teknologi yang kami hasilkan bisa lebih matang dan lebih banyak dipakai warga,” kata salah satu inovator dari Kecamatan Muara Jawa.
Dukungan penuh dari kecamatan yang disebutkan secara langsung oleh DPMD Kukar—seperti Samboja Barat dan Sangasanga—juga menjadi sorotan positif. Menurut para peserta, kehadiran camat dan kepala desa dalam proses penilaian menunjukkan bahwa inovasi bukan hanya urusan teknis, tapi juga menjadi bagian pembangunan desa yang strategis. Keterlibatan mereka diyakini mampu mempercepat pemanfaatan teknologi tepat guna di lapangan.
Meski bersemangat menyongsong kompetisi tingkat provinsi tahun 2026, para inovator menilai bahwa tantangan ke depan akan lebih berat. Mereka harus memastikan karya mereka tidak hanya layak ditampilkan, tetapi juga siap diterapkan secara lebih luas. Oleh karena itu, peserta berharap pendampingan dari DPMD Kukar menjadi lebih intensif agar karya yang dikirim tidak hanya bersaing, tetapi juga berpotensi menjadi proyek percontohan.
Dengan antusiasme para pelaku inovasi dan dukungan pemerintah daerah, TTG 2025 dinilai mampu membuka ruang kolaborasi yang lebih besar. Para peserta berharap momentum ini terus dijaga agar teknologi tepat guna benar-benar menjadi bagian dari solusi kehidupan masyarakat desa. (Adv)






