Kutai Kartanegara — Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus memperkuat komitmen dalam membangun pariwisata berbasis komunitas melalui pengembangan festival desa. Tak sekadar menjadi ajang hiburan, kegiatan ini kini menjelma sebagai motor penggerak ekonomi lokal sekaligus sarana pelestarian budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pemasaran Dispar Kukar, Ivan Ahmad, menjelaskan bahwa festival desa adalah cerminan wajah sejati pariwisata Kukar pariwisata yang tumbuh dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat.
“Festival desa bukan hanya soal hiburan dan keramaian. Lebih dari itu, ini merupakan strategi promosi wisata yang efektif dan bentuk nyata pelestarian budaya lokal,” ujar Ivan, Sabtu (10/5/2025).
Menurutnya, setiap desa di Kutai Kartanegara memiliki potensi luar biasa mulai dari kekayaan seni tradisional, kuliner khas, hingga keindahan alam yang memikat. Melalui festival, seluruh potensi tersebut bisa dikemas dalam satu panggung yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga membangkitkan rasa bangga warga terhadap identitas desanya.
“Inilah kekuatan pariwisata kita. Gotong royong warga dalam menyiapkan festival menjadi daya tarik tersendiri yang tidak bisa ditiru daerah lain,” tambah Ivan.
Dalam penyelenggaraan festival desa, Dispar Kukar berperan sebagai mitra strategis, bukan sekadar penyokong dana. Pemerintah daerah memberikan dukungan berupa pendampingan teknis, promosi digital, hingga penyediaan fasilitas pendukung agar kegiatan berjalan lancar dan berkelanjutan.
“Pendampingan ini penting karena kami ingin festival desa tidak hanya ramai sesaat, tapi bisa terus hidup dan berkembang,” jelasnya.
Selain berdampak pada sektor budaya, Ivan juga menekankan bahwa festival desa memiliki efek ekonomi yang nyata. Setiap kegiatan membuka peluang bagi UMKM lokal, pelaku ekraf, serta penyedia jasa pariwisata di sekitar lokasi.
“Dampaknya langsung terasa. Warung-warung ramai, homestay penuh, produk lokal meningkat penjualannya. Inilah bentuk ekonomi berbasis komunitas yang kami dorong,” ujarnya.
Salah satu contoh sukses yang diangkat Ivan adalah Festival Danau Semayang di Desa Pela. Festival tersebut berhasil menggabungkan nilai budaya, tradisi, dan ekowisata dalam satu kemasan yang menarik. Hasilnya, jumlah kunjungan wisata meningkat signifikan, sekaligus menumbuhkan kebanggaan warga terhadap desanya sendiri.
Melihat keberhasilan tersebut, Dispar Kukar membuka peluang bagi desa-desa lain untuk menggelar festival serupa. Ivan menegaskan bahwa pihaknya akan memberikan pendampingan bagi desa yang memiliki potensi dan semangat untuk berinovasi.
“Kami sangat terbuka. Desa mana pun yang punya ide dan komitmen, silakan ajukan. Kami siap bantu mulai dari promosi hingga pelatihan teknis,” ujarnya.
Dalam menghadapi era digital, Dispar Kukar juga memperkuat strategi promosi melalui platform daring seperti media sosial, website resmi, dan jaringan mitra wisata nasional, agar festival desa di Kukar dapat dikenal lebih luas hingga ke tingkat nasional.
Menutup pernyataannya, Ivan menegaskan bahwa masa depan pariwisata Kukar tidak hanya bergantung pada destinasi besar, tetapi justru lahir dari kekayaan otentik yang tumbuh di desa-desa.
“Pariwisata yang kuat itu tumbuh dari akar. Dari desa. Karena di sanalah keaslian dan keunikan berada,” tegasnya.
Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, festival desa diharapkan menjadi tonggak penting dalam membangun pariwisata Kukar yang berkarakter, inklusif, dan berkelanjutan.
“Festival desa adalah cermin dari jiwa Kutai Kartanegara. Kami akan terus mendukung agar semangat ini terus menyala dan menjadi inspirasi bagi daerah lain,” tutup Ivan. (Adv)






