Kabarnews.co, JAKARTA – Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Suyudi Ario Seto, menegaskan pentingnya pendekatan berimbang dalam penanganan permasalahan narkotika, yang tidak hanya menitikberatkan pada penindakan, tetapi juga pada pencegahan dan rehabilitasi.
Menurut Suyudi, strategi penanganan narkotika harus dilakukan secara komprehensif melalui pengurangan pasokan (supply reduction) dan permintaan (demand reduction) secara simultan. Pendekatan ini juga perlu didukung dengan kerja sama internasional serta layanan rehabilitasi berbasis bukti.
Ia menekankan bahwa upaya pemberantasan narkotika tidak cukup hanya mengedepankan aspek hukum, tetapi juga harus memperhatikan pendekatan kemanusiaan, khususnya bagi korban penyalahgunaan narkotika.
Komitmen tersebut disampaikan dalam forum internasional Sesi ke-69 Commission on Narcotic Drugs (CND) yang berlangsung di Wina, Austria, pada 9–13 Maret 2026. Dalam forum itu, Indonesia turut mendorong penguatan kolaborasi global untuk menghadapi tantangan narkotika yang semakin kompleks.
Selain itu, BNN juga menyoroti tren baru penyalahgunaan narkotika melalui rokok elektronik atau vape. Dalam sebuah seminar internasional bertajuk “Vape and Narcotics: A Bad Combination”, dibahas bahwa cairan vape yang terkontaminasi narkotika sulit dideteksi dan berisiko tinggi terhadap kesehatan.
Forum tersebut juga menghasilkan dorongan untuk memperkuat regulasi, membangun sistem peringatan dini, serta meningkatkan kerja sama lintas negara dalam menghadapi pola penyalahgunaan narkotika yang terus berkembang.
Di sisi lain, BNN memperkenalkan program “Ananda Bersinar” sebagai upaya pencegahan sejak dini, khususnya untuk melindungi generasi muda dari ancaman narkotika melalui pendekatan edukatif dan pemberdayaan masyarakat.
Dengan pendekatan berimbang yang menggabungkan aspek penegakan hukum, kesehatan, sosial, dan kerja sama internasional, pemerintah berharap penanganan narkotika di Indonesia dapat berjalan lebih efektif, berkelanjutan, serta mampu menjawab tantangan global yang terus berubah.






