Kabarnews.co, Samarinda – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menekankan pentingnya penerapan pendekatan logical thinking atau berpikir logis dalam sistem pendidikan Indonesia. Hal ini meniru kesuksesan Jepang dalam membangun budaya belajar yang rasional dan terstruktur, yang terbukti meningkatkan kualitas pendidikan nasional mereka.
Penelaah Analisis Kebijakan Direktorat Guru PAUD dan PNF Kemendikdasmen, Abdul Gofur, menyampaikan hal ini dalam Lokakarya Pembelajaran Mendalam yang diikuti para guru dari Kalimantan Timur. Menurutnya, pembinaan guru adalah kunci dalam membangun ekosistem pendidikan yang menumbuhkan nalar logis siswa.
“Jepang sangat menekankan pembinaan guru untuk mencapai pembelajaran yang berlandaskan ‘logical thinking’. Orang Jepang itu sangat logis dan rasional dalam berpikir,” ujarnya.
Sebagai contoh, Gofur menceritakan bagaimana masyarakat Jepang menganalisis tsunami Aceh secara ilmiah. Ketika sebuah masjid tetap berdiri kokoh di tengah reruntuhan, masyarakat Jepang tidak langsung mengaitkannya dengan spiritualitas, tetapi mencari penjelasan logis dan teknis.
Langkah ini menunjukkan bahwa pendidikan di Jepang membentuk masyarakat yang terbiasa berpikir kritis dan ilmiah sejak usia dini. Hal ini menjadi sorotan penting karena Indonesia masih tertinggal dalam hasil survei pendidikan global seperti PISA (Programme for International Student Assessment).
“Nilai kita masih kurang pada skor PISA, masih kalah dengan Vietnam,” tambahnya.
Gofur menyoroti keberhasilan Vietnam yang mampu berada di peringkat kedelapan untuk literasi dan numerasi dalam PISA 2012. Pencapaian ini menunjukkan bahwa negara yang relatif baru merdeka pun bisa mencatat prestasi global bila sistem pendidikannya dibenahi secara serius.
Untuk mengatasi ketertinggalan ini, Kemendikdasmen terus mendorong penerapan pembelajaran mendalam (Deep Learning), pendekatan STEAM, serta metode pembelajaran berpikir tingkat tinggi (HOT). Program Merdeka Belajar juga menjadi bagian dari strategi nasional yang lebih fleksibel dan berorientasi pada murid.
Salah satu metode yang kini disoroti adalah Lesson Study, sebuah pendekatan kolaboratif antar guru yang ia pelajari langsung dari Jepang. Lesson Study terdiri dari tiga tahapan utama: plan (merancang), do (melaksanakan), dan see (mengevaluasi).
“Lesson Study menjadi penting karena mendorong diskusi kolaboratif untuk memperkuat perencanaan, desain aktivitas, dan perumusan ringkasan evaluasi,” jelas Gofur.
Ia menyayangkan bahwa masih banyak guru di Indonesia yang belum mampu merancang tujuan pembelajaran yang jelas serta mengaitkannya dengan aktivitas dan evaluasi secara utuh. Karena itu, pelatihan seperti lokakarya ini sangat penting untuk meningkatkan kapasitas guru.
Melalui kolaborasi antar pendidik dan adopsi strategi dari negara maju, Kemendikdasmen berharap pendidikan di Indonesia tidak hanya mengejar angka, tetapi juga membentuk cara berpikir yang sistematis, logis, dan mendalam bagi generasi penerus bangsa. (*)
Sumber : kaltim.antaranews.com
Penulis : Rachaddian






