TENGGARONG — Pelaku UMKM di Kutai Kartanegara mendapat dorongan baru melalui Focus Group Discussion (FGD) tentang penguatan ekonomi desa pascatambang, yang digelar oleh Yayasan Mitra Hijau bekerja sama dengan Universitas Mulawarman di Samarinda pada Oktober lalu.
Diskusi menghadirkan peserta dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah daerah, akademisi, komunitas lokal, dan pelaku UMKM. Forum ini membuka kesempatan bagi masyarakat terdampak tambang batubara untuk merumuskan strategi ekonomi alternatif di tengah transisi energi nasional menuju Net Zero Emission.
Ahmad Irji’i, Penggerak Swadaya Masyarakat DPMD Kukar, menyebut bahwa FGD memberi pemahaman nyata tentang kondisi lapangan. “Kami ingin memastikan masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku utama dalam ekonomi hijau,” ujarnya.
Bagi pelaku UMKM, forum ini membuka peluang memperluas jaringan, belajar pengelolaan usaha, dan mengidentifikasi sektor potensial seperti pengolahan hasil pertanian, olahan pangan lokal, serta wirausaha kreatif. Meskipun masih menghadapi kendala modal dan akses pasar, banyak peserta optimistis bahwa kerja sama lintas sektor akan membantu mengatasi hambatan tersebut.
“Diskusi ini memberi arahan konkret bagaimana kami bisa berkembang dan menyiapkan usaha yang berkelanjutan meski tambang mulai menurun,” kata salah satu peserta dari Kutai Kartanegara.
FGD ini diharapkan menjadi pijakan bagi pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha untuk menyusun peta jalan penguatan UMKM di wilayah pascatambang secara sistematis. Ahmad Irji’i menegaskan, penguatan ekonomi desa menjadi kunci agar masyarakat tetap produktif, mandiri, dan siap menghadapi masa depan energi bersih.
Dengan semangat kolaborasi, para pelaku UMKM Kukar kini memiliki motivasi baru untuk mengembangkan usaha dan memastikan ekonomi desa tetap bergerak di era transisi energi. (Adv)






